RoadToMaster –
Bismillaahirrahmaanirrahiim.. Memang, perjalanan dari seorang newbie di
dunia IT menuntut keseriusan dalam belajar, bahkan seringkali kita
menemukan hambatan dan rintangan ditengah jalan. Tapi yakinilah kawan,
hambatan terbesar ada pada diri kita, yaitu kemalasan untuk mencari tahu
dan menggali apa makna yang terkandung dalam ilmu tersebut. Maka dari
itu, dengan Semangat Baru, Kita Mau, Kita Mampu, Kita Maju..
Bahasan kali ini bermula dari jobdesc yang
belum pernah saya tangani, bahkan belum pernah saya pelajari sewaktu
kuliah. Maklum, dulu hampir setiap harinya berkutat dengan sistem yang
berbau transmisi, hehe..
Tapi kali ini dikasih kesempatan menjadi junior System Engineer, yang mau ga mau
berhubungan dengan sistem yang lebih kompleks dari sistem transmisi itu
sendiri. Yup bahasan kita kali ini adalah Sistem Redundansi Penyimpanan
Data (Redundant Data Storage System).
Nah, dalam istilah penyimpanan data, dikenal sistem teknologi RAID, yaitu singkatan dari Redundant Array of Independent Disks. Berdasarkan penjelasan dari Mbah Wiki di rumahnya
, RAID merujuk kepada sebuah teknologi di dalam penyimpanan data
komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fitur toleransi
kesalahan pada media penyimpanan komputer (utamanya adalah hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakan perangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah. Kata “RAID” juga memiliki beberapa singkatan Redundant Array of Inexpensive Disks, Redundant Array of Independent Drives, dan juga Redundant Array of Inexpensive Drives. Apapun singkatannya, teknologi ini intinya adalah membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah, sehingga didesain untuk meningkatkan keandalan data dan/atau meningkatkan kinerja I/O dari hard disk.
Sejak pertama kali diperkenalkan, RAID dibagi ke dalam beberapa skema, yang disebut dengan “RAID Level“.
Pada awalnya, ada lima buah RAID level yang pertama kali dikonsepkan,
tetapi seiring dengan waktu, level-level tersebut berevolusi, yakni
dengan menggabungkan beberapa level yang berbeda dan juga
mengimplementasikan beberapa level proprietary yang tidak menjadi standar RAID. Kelima level tersebut adalah:
- RAID level pertama: mirroring
- RAID level kedua : Koreksi kesalahan dengan menggunakan kode Humming.
- RAID level ketiga : Pengecekan terhadap disk tunggal di dalam sebuah kelompok disk.
- RAID level keempat: Pembacaan dan penulisan secara independen
- RAID level kelima : Menyebarkan data dan paritas ke semua drive (tidak ada pengecekan terhadap disk tunggal)
Berdasarkan refensi yang saya dapatkan dari mas William, ada 3 macam metode RAID berdasarkan kegunaannya yang dapat digunakan, yaitu:
- RAID 0 (metode Striping)
- RAID 1 (metode Mirroring)
- RAID 0+1 (metode Striping + Mirroring)
RAID 0 (untuk kecepatan)
RAID 0 yg dikenal juga dgn metode Striping
digunakan utk mempercepat kinerja hardisk. Kapasitas total hardisk pada
metode ini adalah jumlah kapasitas hardisk pertama ditambah hardisk
kedua. Metodenya dilakukan dengan cara membagi data secara terpisah ke
dua buah hardisk. Jadi separuh data ditulis ke hardisk pertama dan
separuhnya lagi ditulis ke hardisk ke dua. Secara teoritis cara ini akan
mempercepat penulisan/pembacaan harddisk. Keburukan dari cara ini
adalah apabila salah satu hardisk rusak maka seluruh data akan hilang.
RAID 1 (untuk keamanan data)
RAID 1 yg dikenal juga dengan metode Mirroring digunakan utk mendapatkan keamanan data (backup). Metodenya dilakukandengan cara menyalin isi harddisk pertama ke harddisk kedua. Jadi apa yg ditulis pada hardisk pertama akan juga ditulis di hardisk kedua. Apabila salah satu hardisk rusak, maka data pada hardisk yg satunya masih ada. Keburukan dari cara ini adalah tidak adanya peningkatan kinerja sama sekali, performanya malah akan sedikit lebih pelan dibanding perrforma hardisk single (non-RAID). Selain itu kapasitas total yg anda dapat dgn metode ini hanyalah sebesar kapasatitas satu hardisk saja.
RAID 1 yg dikenal juga dengan metode Mirroring digunakan utk mendapatkan keamanan data (backup). Metodenya dilakukandengan cara menyalin isi harddisk pertama ke harddisk kedua. Jadi apa yg ditulis pada hardisk pertama akan juga ditulis di hardisk kedua. Apabila salah satu hardisk rusak, maka data pada hardisk yg satunya masih ada. Keburukan dari cara ini adalah tidak adanya peningkatan kinerja sama sekali, performanya malah akan sedikit lebih pelan dibanding perrforma hardisk single (non-RAID). Selain itu kapasitas total yg anda dapat dgn metode ini hanyalah sebesar kapasatitas satu hardisk saja.
RAID 0+1 (untuk kecepatan+backup)
Metode ini merupakan kombinasi RAID 0 dan RAID 1. Dimana selain memperoleh kecepatan anda juga memperoleh keamana data. Untuk metode ini diperlukan minimal 4 harddisk. Kapastitas total yg anda dapat adalah sejumlah kapasitas 2 hardisk.
Metode ini merupakan kombinasi RAID 0 dan RAID 1. Dimana selain memperoleh kecepatan anda juga memperoleh keamana data. Untuk metode ini diperlukan minimal 4 harddisk. Kapastitas total yg anda dapat adalah sejumlah kapasitas 2 hardisk.
Biasanya metode RAID 1 digunakan utk
server, sebab server mengutamakan keamanan data. Sedangkan utk pengguna
PC rumahan RAID 0 lebih umum digunakan karena yg diutamakan bagi mereka
adalah peningkatan kinerja harddisk. Tapi apakah benar RAID 0 dapat
meningkatkan kinerja secara drastis? Yup, kita pahami saja konsep
dibawah ini kawan
Konsep Dasar RAID
Ada beberapa konsep kunci di dalam RAID: mirroring (penyalinan data ke lebih dari satu buah hard disk), striping (pemecahan data ke beberapa hard disk) dan juga koreksi kesalahan,
di mana redundansi data disimpan untuk mengizinkan kesalahan dan
masalah untuk dapat dideteksi dan mungkin dikoreksi (lebih umum disebut
sebagai teknik fault tolerance/toleransi kesalahan).
Level-level RAID yang berbeda tersebut
menggunakan salah satu atau beberapa teknik yang disebutkan di atas,
tergantung dari kebutuhan sistem. Tujuan utama penggunaan RAID adalah
untuk meningkatkan keandalan/reliabilitas yang sangat penting untuk
melindungi informasi yang sangat kritis untuk beberapa lahan bisnis,
seperti halnya basis data, atau bahkan meningkatkan kinerja, yang sangat penting untuk beberapa pekerjaan, seperti halnya untuk menyajikan video on demand ke banyak penonton secara sekaligus.
Konfigurasi RAID yang berbeda-beda akan
memiliki pengaruh yang berbeda pula pada keandalan dan juga kinerja.
Masalah yang mungkin terjadi saat menggunakan banyak disk adalah salah
satunya akan mengalami kesalahan, tapi dengan menggunakan teknik
pengecekan kesalahan, sistem komputer secara keseluruhan dibuat lebih
andal dengan melakukan reparasi terhadap kesalahan tersebut dan akhirnya
“selamat” dari kerusakan yang fatal.
>> RAID 0 (Teknik Disk Striping), bisa meningkatkan performa, yang mengizinkan sekumpulan data dibaca dari beberapa hard disk
secara sekaligus pada satu waktu, akan tetapi bila satu hard disk
mengalami kegagalan, maka keseluruhan hard disk akan mengalami
inkonsistensi performansi.
Disk Striping dapat meningkatkan kinerja
karena pengaksesan data diakses dengan lebih dari satu harddisk,
sehingga lebih banyak spindle disk yang bekerja dalam melayani I/O data.
Namun Disk Striping (RAID 0) tidak memiliki data redundancy / proteksi
data terhadap kerusakan harddisk, karena semua data ditulis langsung apa
adanya ke semua Harddisk.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 0 kita
dapat menggunakan 100% dari total jumlah kapasitas harddisk yang
terpasang. Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 0 akan menghasilkan total
kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB
>> RAID 1 (Teknik Disk Mirroring)
dapat meningkatkan proses pembacaan data mengingat sebuah sistem yang
menggunakannya mampu membaca data dari dua disk atau lebih, tapi saat
untuk menulis kinerjanya akan lebih buruk, karena memang data yang sama
akan dituliskan pada beberapa hard disk yang tergabung ke dalam hard
disk tersebut. Berikut penjelasan lebih detailnya dari salah satu sumber
yang saya dapatkan:
RAID 1 (Disk Mirroring) bekerja dengan
prinsip cermin, yaitu berpasang-pasangan dan identik antara satu dengan
yang lainnya. Jadi dengan RAID 1, data yang ditulis ke satu Harddisk
secara simultan ditulis juga ke Harddisk yang lainnya. Sehingga jika
terjadi kerusakan 1 Harddisk pada RAID 1, system server masih memiliki
data cadangan di harddisk yang lainnya. Dan pada saat Harddisk yang
rusak diganti dengan yang baru, maka secara otomatis, harddisk pengganti
yang baru dipasang akan melakukan sinkronisasi data dengan harddisk
yang masih berfungsi (rebuilding) Keuntungan dari RAID 1 adalah data
memiliki cadangan antara yang ada di harddisk yang satu dengan yang
lainnya. Dan karena isi dari kedua Harddisk tersebut adalah identik,
tidak jadi masalah harddisk yang mana yang boleh rusak selama pada suatu
saat hanya satu Harddisk yang rusak, sampai proses sinkronisasi
berikutnya selesai.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 1 kita
akan hanya memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak 50%
dari total kapasitas Harddisk yang terpasang
Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 1 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 1 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
>> RAID 5 (Teknik Disk Striping with Distributed Parity)
Sesuai dengan namaya, cara kerja RAID 5
sama dengan cara kerja RAID 0, yaitu menggunakan disk striping.Yang
membedakan anatara keduanya adalah Parity. Parity ini digunakan untuk
pengecekan dan perbaikan kesalahan (error checking and correcting).
Parity ini disebar di beberapa disk untuk menghindari pengurangan
kinerja (Performance bottleneck) pada saat pembuatan parity. Jika Parity
disimpan di satu harddisk saja, maka disebut RAID 3 (Disk Striping with Dedicated Parity).
Dengan adanya parity ini, maka system RAID 5 tersebut akan tetap
berfungsi jika ada salah satu harddisk dalam RAID 5 tersebut itu rusak.
Dan harddisk yang rusak tersebut dapat harddisk yang mana saja selama
berada dalam satu system RAID 5 yang sama. Karena parity ini berasal
dari perhitungan matematik dari suatu beberapa pecahan data, maka, pada
saat ada satu bagian pecahan data yang hilang/rusak, system RAID 5 dapat
“mengetahui” pecahan data yang hilang tesebut dengan menghitung ulang
parity dengan pecahan data yang lainnya.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 5 kita
akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-1) x
Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N
adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 3 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
Contoh:
• 3 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
>> RAID 6 (Disk Striping with Dual Parity)
(*mulai didukung HANYA di PERC6 dan selanjutnya)
Dapat dilihat dari namanya, RAID 6
menggunakan cara kerja dan konsep yang sama dengan RAID 5 dari sisi
penulisan data yang tersebar di beberapa hard disk. Yang membedakan
antara RAID 6 dan RAID 5 adalah jumlah parity yang ditulis pada saat
penulisan data. Jika RAID 5 menggunakan satu parity, maka RAID 6
menggunakan dua parity. Dengan menulis 2 parity, maka RAID 6 dapat
mengakomodasikan kerusakan harddisk maksimal 2 unit pada saat yang
bersamaan
Dari sisi kapasitas, maka RAID 6 kita
akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-2) x
Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N
adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 6 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
Contoh:
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 6 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
>> Teknik pengecekan kesalahan
juga pada umumnya akan menurunkan kinerja sistem, karena data harus
dibaca dari beberapa tempat dan juga harus dibandingkan dengan checksum
yang ada. Maka, desain sistem RAID harus mempertimbangkan kebutuhan
sistem secara keseluruhan, sehingga perencanaan dan pengetahuan yang
baik dari seorang administrator jaringan sangatlah dibutuhkan.
Beberapa sistem RAID dapat didesain untuk
terus berjalan, meskipun terjadi kegagalan. Beberapa hard disk yang
mengalami kegagalan tersebut dapat diganti saat sistem menyala (hot-swap) dan data dapat diperbaiki secara otomatis. Sistem lainnya mungkin mengharuskan shutdown ketika data sedang diperbaiki. Karenanya, RAID sering digunakan dalam sistem-sistem yang harus selalu on-line, yang selalu tersedia (highly available), dengan waktu down-time yang, sebisa mungkin, hanya beberapa saat saja.
Pada umumnya, RAID diimplementasikan di dalam komputer server, tapi bisa juga digunakan di dalam workstation. Penggunaan di dalam workstation umumnya digunakan dalam komputer yang digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan penyuntingan video/audio.
Yup, itulah sekelumit konsep tentang
RAID. Tunggu ya bahasan selanjutnya mengenai Veritas Cluster System,
yang masih berhubungan dengan teknologi Database Storage. Selamat
bersenang-senang kawan
Salam,
Akheededi @eMulanetwork
Perbandingan RAID Level
| Features | RAID 0 | RAID 1 | RAID 1E | RAID 5 | RAID 5EE |
| Minimum # Drives | 2 | 2 | 3 | 3 | 4 |
| Data Protection | No Protection | Single-drive failure | Single-drive failure | Single-drive failure | Single-drive failure |
| Read Performance | High | High | High | High | High |
| Write Performance | High | Medium | Medium | Low | Low |
| Read Performance (degraded) | N/A | Medium | High | Low | Low |
| Write Performance (degraded) | N/A | High | High | Low | Low |
| Capacity Utilization | 100% | 50% | 50% | 67% – 94% | 50% – 88% |
| Typical Applications | High End Workstations, data logging, real-time rendering, very transitory data | Operating System, transaction databases | Operating system, transaction databases | Data warehousing, web serving, archiving | Data warehousing, web serving, archiving |
| Features | RAID 6 | RAID 10 | RAID 50 | RAID 60 |
| Minimum # Drives | 4 | 4 | 6 | 8 |
| Data Protection | Two-drive failure | Up to one disk failure in each sub-array | Up to one disk failure in each sub-array | Up to two disk failures in each sub-array |
| Read Performance | High | High | High | High |
| Write Performance | Low | Medium | Medium | Medium |
| Read Performance (degraded) | Low | High | Medium | Medium |
| Write Performance (degraded) | Low | High | Medium | Low |
| Capacity Utilization | 50% – 88% | 50% | 67% – 94% | 50% – 88% |
| Typical Applications | High End Workstations, data logging, real-time rendering, very transitory data | Fast databases, application servers | Large databases, file servers, application servers | Data archive, backup to disk, high availability solutions, servers with large capacity requirements |
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/RAIDhttp://nasari.wordpress.com/2010/04/30/pengertian-raid
http://www.wiliam.info/it/info-it/raid-apaan-tuch
http://student.eepis-its.edu/~izankboy/laporan/adminlinuxpdf/11.%20Managemen%20File%20Sistem%20Lanjutppt.pdf
http://www.pantherproducts.co.uk/Articles/Storage/RAID.shtml
http://tenggosoft.wordpress.com/server/sistem-raid/
http://ironraid.com/whatisraid.htm
http://www.raidrecoverylabs.com/standard_raid_levels/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar