Rabu, 12 Desember 2012

Cara Menghitung Jarak Kekuatan Wireless

Banyak sekali pertanyaan yang timbul pada saat kita akan mulai memasang perangkat wireless, terutama access point dengan indoor atau outdoor antena. Bagaimana sebenarnya menghitung dengan benar kekuatan wireless yang dapat menghasilkan pencapaian sinyal wireless menjadi excellent sampai di komputer anda. Beberapa pertanyaan yang sering muncul diantaranya seperti:
  • Berapa besar power (dB) yang dibutuhkan dengan jarak tertentu yang ada.
  • Berapa besar jarak maksimum antara transmitter (pemancar) dengan receiver (penerima) agar mendapatkan kualitas penerimaan yang masih tergolong normal.
Sebenarnya, kualitas penerimaan tidak selalu seperti yang ada dalam penjelasan ini, kualitas penerimaan akan sangat sekali tergantung dengan kondisi lingkungan dan jaringan yang ada diantara transmitter dan reveiver berada. Namun penjelasan kali ini bisa dijadikan acuan untuk keperluan pemilihan jenis perangkat yang sesuai dan dapat melakukan tindakan antisipatif sebelum membangun jaringan wireless di tempat anda.
Jarak Maksimum
Banyak kita mendengar bahwa kekuatan wireless outdoor maksimum dapat mencapai jarak 30 km. Namun pada kenyataannya, sebagian besar kekuatan sinyal akan hilang di udara bahkan dalam suatu kondisi yang vakum sekalipun. Sinyal radio akan kehilangan sebagian power mulai sinyal dipancarkan karena akan ada power yang menyebar selain dari arah jalannya sinyal tersebut. FSPL (Free Space Path Lost), lihat penjelasan dari wiki - akan mengukur daya yang hilang dalam ruang bebas hambatan, FSPL ini penting diketahui untuk mengetahui perkiraan jarak antara pemancar dan penerima yang ideal sekaligus menjaga kualitas link pada kecepatan transfer data yang berbeda.
Rumus FSPL (dB) = 20log10(d) + 20log10(f) + K
d = distance (jarak)
f = frekuensi
K = konstanta yang bergantung pada satuan jarak antara d dan f.
Jika jarak diukur dengan satuan KM dan f diukur dengan satuan MHz, maka rumusnya akan menjadi seperti ini
FSPL (dB) = 20log10(d)+ 20log10(f) + 32.44
Jika jarak diukur dengan satuan KM dan f diukur dengan satuan GHz, maka rumusnya akan menjadi seperti ini.
FSPL (dB) = 20log10(d)+ 20log10(f) + 92.45
Sedangkan jika jarak diukur dengan satuan M dan f diukur dengan satuan MHz, maka rumusnya akan menjadi seperti ini.
FSPL (dB) = 20log10(d)+ 20log10(f) - 27.55
 
Dalam kesempatan ini yang akan saya ambil adalah konstanta dengan satuan frekuensi GHz.
 
FSPL dapat dihitung dengan rumus seperti ini dari data Fade Margin Equation.
Free Space Path Loss=Tx Power-Tx Cable Loss+Tx Antenna Gain+Rx Antenna Gain - Rx Cable Loss - Rx Sensitivity - Fade Margin
Dari kedua FSPL equation diatas dapat menhitung jarak.
Distance (km) = 10(Free Space Path Loss – 92.45 – 20log10(f))/20
 
Contoh:
Ada sebuah perangkat wireless dengan spesifikasi sbb:
TX Power = 36 dBm (maksimum standard FCC US)
TX Cable Loss = 1 dB
TX Antenna Gain = 24 dBi
RX Antenna Gain = 24 dBi (standard antena Grid berbanding dengan antena isotropik (0 dBi)
RX Cable Loss = 1 dB
RX Sensitivity = -68 dBm, -90 dBm (yang merupakan daya pancar minimum untuk mendapatkan throughput 54 Mbps)
Fade Margin = 0
f = 2.4 GHz
Free Space Path Loss=Tx Power-Tx Cable Loss+Tx Antenna Gain+Rx Antenna Gain - Rx Cable Loss - Rx Sensitivity - Fade Margin
FSPL = 36 - 1 + 24 + 24 - 1 - 68 - 0
FSPL = 14
Distance (km) = 10(Free Space Path Loss – 92.45 – 20log10(f))/20
D = 10(14 - 92.45 - 20log10(2.4))/20
D = 10(14 - 92.45 -  2.4)/20
D = 10(-80.85)/20
D = -808.5/20
D = - 40.425 KM

Maka jarak yang dapat dicapai dengan perangkat wireles tersebut dalam radius 40,425 KM.
Semoga berguna.

Kamis, 29 November 2012

apa itu SNR dan LA

Apa tujuan posting ini?

  • Bagi yg merasa ada masalah dgn performa koneksi broadband-nya dan telah posting message namun belum sempat mendapatkan respon, anda dapat mencoba melakukan analisa pendahuluan sendiri dgn memanfaatkan ke dua tabel di atas sembari menunggu masukan dari member lainnya.
Keduanya berisi klasifikasi generik atas dua parameter penting yg sering dipergunakan profesional komunikasi data untuk memeriksa kondisi umum jaringan sebelum menentukan langkah penelusuran lebih lanjut.
  • Posisi posting ke dua tabel di taruh di bagian awal dgn maksud supaya mudah di lihat sekaligus kalau suatu hari diperlukan, sedangkan keterangan singkat dan contoh sederhana disertakan pada bagian setelah ini.

[edit] Di mana nilai SNR Margin (SNRM) dan Line Attenuation (LA) dapat diperoleh?

Jika mode pemakaian modem menggunakan PPPoE / PPPoA (alias Routing Mode, atau tidak di-Bridge), nilai SNRM dan LA dapat diketahui melalui halaman manajemen (web management interface) modem/router ADSL masing². Biasanya pada bagian yg berkaitan dgn "Statistic", "Diagnostic", "Connection Log", "DSL Status", dan semacamnya.
Kalau di-Bridge, anda harus masuk ke modem/router melalui fasilitas Telnet dan memakai instruksi² CLI (Command Line Interface) untuk menampilkan data/informasi yg diinginkan. Detail dan syntax perintah mungkin berbeda untuk tiap merk dan model (karena perbedaan chipset, firmware, dsb). Lihat user manual dan/atau handbook CLI yg diterbitkan pembuat modem/chipset/firmware.
Tip: Kalau tidak mau repot, reset modem/router-nya dan connect kembali dgn mode Router atau Bridge+Route (PPPoE/PPPoA), pokoknya asal jangan mode Bridge murni.

[edit] PENTING !

ReSet (hard reset; cold reset) tidak sama dengan ReBoot atau ReStart. Me-reset modem/router ADSL akan menghapus SEMUA konfigurasi user dan mengembalikan setting ke factory default. Sebelum me-Reset modem, catat dulu:
  • Nomer VPI dan VCI (data konfigurasi dasar koneksi ADSL TelkomSpeedy)
  • Nomer Account (14xxXXxxXXxx@telkom.net) dan Password TelkomSpeedy.
  • Administrator UserName dan Administrator Password dari modem/router ADSL.
Data di atas dibutuhkan unt bisa connect lagi dgn mode Router ataupun Bridge+Route.

[edit] Contoh kasus: Koneksi sering terputus, lambat, tidak bisa connect, dsb.

Bila perolehan nilai SNRM dan LA kita ternyata pada level cukup untuk memperoleh koneksi yg normal, kemungkinan letak sumber masalah bisa diredusir dgn [untuk sementara] mengesampingkan hal² yg berkaitan langsung dgn komponen primer pada infrastruktur jaringan, baik itu primary hardware kita sendiri ataupun milik provider.
Yang namanya "komunikasi" selalu melibatkan lebih dari satu partisipan (minimal dua). Sepanjang jalur (medium) komunikasi-nya oke, bila ada kelambatan atau hambatan lainnya, bisa jadi disebabkan karena masalah "persepsi" (kompatibilitas software, perbedaan protokol komunikasi, dsb). Ini menyebabkan message (isi pesan yg hendak dikomunikasikan) harus di-retransmit ber-ulang²; dan pihak penerima otomatis harus decoding/recoding ber-ulang² juga -- terjadilah perlambatan, atau malah gagal sama sekali karena kedua partisipan akhirnya "menyerah" (berhenti bertukar sinyal/data). Di mata user hal tsb sama dengan koneksi lambat (karena tersita pengulangan proses transmisi), atau gagal connect (tujuan koneksi tidak tercapai). Kita bisa lihat dalam kasus ini permasalahannya tidak pada gangguan medium namun lebih pada "tata-cara" berkomunikasi.

[edit] NOTE:

Bagi yg masih awam dgn dunia teknologi informasi, bila anda belum dapat menangkap maksud tersembunyi dari berbagai analogi yg terkandung dalam paragraf di atas, sekedar beberapa keterangan singkat berikut ini mungkin bisa membantu.
  • Protocol: Browsing, Download, Chatting, Transfer File, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya via Internet, dapat terselenggara berkat adanya standar "tata-cara berkomunikasi" yg disebut "protocol" dan "sub-protocol". Tanpa standarisasi aturan tsb berbagai macam mesin tidak akan dapat saling berhubungan atau mengerti apa yg harus dikerjakan.
  • Coding/Decoding: Sinyal (code) dan Data (informasi) harus disampaikan dalam format, susunan dan ukuran yang "telah disepakati", dalam arti "dimengerti" oleh semua pihak/perangkat yg terlibat.
  • Transmit/Re-transmit: Sinyal & Data boleh (dan harus) dikirim ulang jika penerima melaporkan apa yg telah diterimanya sampai saat itu tidak/belum sesuai dgn segala yg telah disepakati ketika pertama kali kontak (handshake). Tergantung bagaimana penulisan kode software-nya, frekuensi & format transmisi dapat berubah. Frekuensi bisa dipercepat atau diperlambat. Format bisa dipendekkan, dipanjangkan, dirubah bentuk dan/atau susunannya, dsb.
  • Di antara Pengirim (initiator) dan Penerima (receptor) bisa terdapat lebih dari satu Perantara (mediator). Salah satu mediator itu misalnya adalah mesin yg secara generik disebut Router -- tugasnya memilih/menganalisa/memformat-ulang/menyampaikan bit² yg melaluinya ke pihak berikutnya (yg bisa merupakan Router atau mesin jenis lainnya). Setelah pesan diterima, receptor wajib memberitahu initiator bahwa pesan telah diterima dgn baik (ACKnowledge). Jalur yg harus dilalui [biasanya] sama dng jalur pengiriman, namun tidak tertutup kemungkinan mempergunakan jalur lain (bisa lebih jauh atau lebih dekat). Ada bermacam jenis Router. Mediator jenis lain misalnya adalah Proxy, Switch, dsb.
  • Bila Sinyal dan/atau Data yg dikirim initiator -- sengaja atau tidak -- berisi kode² yg "tidak dikehendaki" oleh penerima (atau mediator), komunikasi sangat mungkin akan diputuskan. Alamat pengirim akan dicatat, dan transmisi selanjutnya dari sumber tsb tidak akan diproses.
Mengapa anda tidak bisa connect, atau connect-nya tidak lancar, padahal jalur komunikasi oke? Apakah komputer anda bersih dari malware? Apakah kebetulan anda mendapat "identitas/alamat bekas" dari user lain yg sebelumnya telah di-filter? Apakah di tengah jalan transmisi anda dialihkan ke mediator "gadungan" tanpa sepengetahuan anda? Apakah ada aspek² tertentu pada receptor/mediator yg telah diubah pemiliknya oleh karena satu dan lain alasan sehingga "tidak seperti biasanya"? Salah setting software? Software lain berperilaku "egois" dan menghalangi komponen lainnya?


[edit] SNR Margin (SNRM)

[edit] Signal-to-Noise Ratio (SNR)

SNR ialah Perbandingan (ratio) antara kekuatan Sinyal (signal strength) dengan kekuatan Derau (noise level). • Nilai SNR dipakai untuk menunjukkan kualitas jalur (medium) koneksi. Makin besar nilai SNR, makin tinggi kualitas jalur tersebut. Artinya, makin besar pula kemungkinan jalur itu dipakai untuk lalu-lintas komunikasi data & sinyal dalam kecepatan tinggi. • Nilai SNR suatu jalur dapat dikatakan pada umumnya tetap, berapapun kecepatan data yang melalui jalur tersebut. • SNR tidak sama dengan SNRM, namun keduanya saling berkaitan erat satu sama lainnya. • Satuan ukuran SNR dan SNRM adalah decibel (dB) <-- logarithmic.
Meskipun dituliskan dengan cara/nama (label) yg berbeda² (SNR, SNR Margin, Noise Margin, Margin, Receive Margin, dsb) pada tiap merk & model modem/router ADSL, yang dilapokan oleh alat itu sebenarnya adalah nilai SNRM, bukan nilai SNR [kecuali kalau disebutkan demikian secara spesifik pada manual peralatan].

[edit] Signal-to-Noise Margin (SNRM)

  1. Perbedaan (margin) atau Perbandingan Relatif antara Kekuatan Sinyal ADSL dengan Derau (noise) yang ada pada jalur komunikasi.
  2. Perbedaan antara nilai SNR_Sebenarnya dari suatu jalur komunikasi dengan SNR_yg_Dibutuhkan oleh jalur tersebut supaya bisa dipakai untuk menyelenggarakan komunikasi pada suatu tingkat kecepatan tertentu.
Contoh:
Misalkan diketahui bahwa kecepatan sebesar 384 kbps membutuhkan tingkat SNR sebesar 20 dB. Diketahui pula bahwa ternyata nilai SNR sebenarnya dari jalur yang dipakai tersebut adalah 45 dB. Maka dapat dihitung bahwa nilai SNRM nya adalah 25 dB, yaitu
SNRM = SNR_Sebenarnya - SNR_yg_Dibutuhkan = 45 dB - 20 dB = 25 dB
• Mengapa ketika kecepatan koneksi kita ditingkatkan dari 384 kbps menjadi 1000 kbps ternyata SNRM yang dilaporkan modem menurun, padahal perangkat koneksi dan perkabelan tidak ada yang diganti? Misalkan diketahui bahwa kecepatan sebesar 384 kbps membutuhkan tingkat SNR sebesar 20 dB. Diketahui bahwa ternyata nilai SNR sebenarnya dari jalur yang dipakai tersebut adalah 45 dB. Diketahui pula bahwa untuk meningkatkan kecepatan dari 384 kbps menjadi 1000 kbps dibutuhkan peningkatan SNR dari 20 dB menjadi 30 dB.
Maka sekarang dapat dihitung bahwa nilai SNRM nya bukan lagi 25 dB melainkan 15 dB, yaitu
SNRM (1000 kbps) = SNR_Sebenarnya - SNR_yg_Dibutuhkan pada 1000 kbps = 45 dB - 30 dB = 15 dB
SNRM (384 kbps) = SNR_Sebenarnya - SNR_yg_Dibutuhkan pada 384 kbps = 45 dB - 20 dB = 25 dB
  • Sebagian merk/model ADSL Modem/Router menunjukkan dua nilai SNRM:

[edit] DownStream SNRM dan UpStream SNRM.

  • Pada umumnya, nilai SNRM terendah yang diperlukan supaya proses SYNCH (sinkronisasi frekuensi sinyal antara modem ADSL kita dengan modem di peralatan DSLAM) dapat berlangsung dengan lancar adalah ±6,0 ~ ±7,0 dB. Nilai inilah yang biasa dicantumkan oleh pembuat modem pada manual sebagai persyaratan minimal supaya modem mampu bersinkronisasi dengan perangkat penyelenggara layanan koneksi. Pada kenyataanya kondisi jaringan berbeda satu sama lainnya. Sebagian jaringan mungkin membutuhkan SNRM minimal sampai ±10 dB.
  • SNRM hanya dapat diukur secara benar dari sisi pelanggan, yaitu dari soket telepon di mana modem kita hubungkan. Nilainya dapat -- dan kemungkinan akan -- berfluktuasi dari waktu ke waktu karena pengaruh interferensi sinyal radio, perangkat elektrik/elektronik lain di sekitar dan disepanjang jalur yang dilalui kabel tersebut, termasuk perubahan cuaca dan iklim.

[edit] TIPS

  1. Bersihkan soket telp. Air seni dan kotoran hewan lainnya akan menimbulkan oksidasi logam dan jamur yg membuat kelembaban meningkat.
  2. Jangan taruh soket telp di lantai atau menanamnya di tembok yg lembab.
  3. Hindari jaringan kabel telp yg banyak sambungan (di dalam maupun di luar rumah). Kalau perlu ganti dgn satu lajur utuh dari tiang telp sampai ke modem. Permintaan penggantian kabel dapat diajukan ke kantor Telkom setempat, biasanya dgn menghubungi nomer 117 (namun bisa segera dilaksanakan atau tidak tergantung persediaan kabel luar setempat).
Kabel listrik bertegangan tinggi yg melintang relatif dekat dgn jaringan kabel telp bisa menjadi sumber gangguan. Pemasangan kabel yg ceroboh (kendor di terminal) juga akan menimbulkan masalah.
  1. Jangan taruh telp atau memasang kabelnya terlalu dekat dgn sumber radiasi elektromagnetis (speaker, AC, dsb) dan sumber gelombang radio (microwave; antena in-door, wireless handset transceiver, dsb). Untuk perkabelan, beri jarak minimal ±30cm (1 feet); taruh lebih jauh lagi kalau ada sambungan kabel terbuka (segera dibungkus isolator).
  2. Jangan meletakkan handphone yg dalam keadaan aktif dekat dgn perangkat komputer, apalagi modem! Ini cenderung selalu disepelekan ... rasakan sendiri akibatnya... tongue
  3. Ganti trafo lampu neon tua, apalagi kalau sudah mengeluarkan bunyi.
  4. Jangan meletakkan stabiliser [terutama stabilizer elektromekanis; stavol] dekat dgn perangkat komputer (kurang dari ±1 m).

[edit] Line Attenuation (LA)

  • Nilai LA menunjukkan seberapa jauh kualitas sinyal dari/antara modem pelanggan sampai ke perangkat DSLAM di Sentral Otomat Telkom telah terdegradasi (melemah; menurun mutunya). Sama halnya dgn penurunan beda potensial (voltage) di ujung akhir akibat penggunaan kabel listrik yg terlalu panjang tanpa penguat.
  • Faktor jarak sangat berperan. Yang dimaksud dgn "jarak" di sini adalah jarak total panjangnya kabel, bukan seberapa jauh rumah/kantor kita dari DSLAM dan/atau Sentral Otomat Telkom. Biarpun bangunan hanya terpisah tembok, rangkaian kabel telp bisa saja berputar dulu mengelilingi blok perumahan.
Makin jauh jarak modem anda dengan peralatan di DSLAM, makin tinggi nilai redamannya, alias makin buruk keadaannya (akibat makin tingginya jumlah sinyal yang hilang/teredam/melemah disepanjang jalur). Makin rendah nilai LA, makin besar kemungkinan kita akan mendapatkan kecepatan koneksi yang lebih tinggi (karena kualitas sinyal relatif terjaga, tidak banyak teredam/hilang/melemah akibat panjangnya jalur yang harus dilalui).
  • Selain panjang, diameter kabel (0,3~0,6 mm) juga berpengaruh, demikian pula dgn kondisinya (oksidasi, lembab/basah, sambungan kendor, banyak sambungan, dsb).

[edit] TIPS

  1. Periksa/test splitter dan/atau micro-filter. Angkat gagang telp. Dengarkan suara nada pilih. Suara berdenging atau kemerosok di pesawat telp dapat menjadi salah satu indikasi kerusakan splitter. Kemudian tekan tombol 0 dan simak. Tak boleh ada suara apapun di sini.
  2. Jangan pakai splitter bermutu rendah, karena malah lebih sering menimbulkan gangguan daripada melaksanakan tugas sebenarnya (memisahkan frekuensi rendah dgn frekuensi tinggi). Frekuensi Rendah unt dilalui sinyal analog (voice); Frekuensi Tinggi unt sinyal digital ADSL.
  3. Radiasi elektromagnetik (EMI/EMR/EMP) yg diakibatkan oleh sambaran petir di dekat jaringan kabel Telkom, PLN, atau disekitar tempat tinggal kita, dapat merusakkan rangkaian elektronik splitter. Jika kekuatannya cukup besar, ekses akan tembus ke UPS/Stabilizer, pesawat telepon/PABX, modem/router, mainboard + peripherals komputer, dan peralatan elektronik lainnya.

[edit] CATATAN TAMBAHAN

  • Parameter lainnya (seperti Transmit/Receive Power, dll) akan disusulkan kalau waktu dan tenaga menginjinkan serta sumber daya lain (quota bandwidth, dsb) masih tersedia.
  • Permasalahan koneksi ADSL broadband TelkomSpeedy tidak hanya disebabkan oleh apa yg telah ditulis di atas. Cukup sering terdeteksi bahwa setelah di-trace ternyata bottle-neck (penyempitan) ada di network node milik SingTel Singapore (partner bisnis dari mana saat ini Telkom masih "kulakan" bandwidth).
Lagi, jika waktu & tenaga mengijinkan bla...bla...bla... -- dan tak ada kesulitan dgn fasilitas upload image yg disediakan forum -- hasil tracing dgn signal plotter akan saya sertakan di forum sbg bahan masukan tambahan.
  • Telah lama diketahui bahwa pada jam² sibuk (peak hours; jam kantor; ±08:30~17:00~21:00WIB), mutu koneksi ADSL broadband TelkomSpeedy mengalami penurunan drastis akibat network congestion (kemacetan di jaringan akibat lalu-lintas pemakaian bandwidth melebihi kapasitas terpasang). Dalam hal ini jelas tak ada permasalahan teknis apapun pada semua perangkat yg terlibat (user, provider, dan partner komunikasi).
Sama seperti kemacetan lalu-lintas pada jam² sibuk di ruas² jalan utama Jakarta seperti Thamrin~Sudirman, GajahMada~HayamWuruk, dsb, yg hampir setiap hari membuat pusing warga Jakarta, keadaan infrastruktur jalanan sebenarnya relatif baik² saja. Hanya jumlah pengguna yg tidak seimbang dgn kapasitas yg ada. Solusi: Berlangganan pada provider lain, unt dipakai sbg koneksi cadangan kalau jalur TelkomSpeedy sedang crowded bin letoy. Sebagai contoh, saat ini ada penawaran berbagai macam paket (Rp160.000/259.000/350.000/625.000/900.000 per bulan) koneksi broadband di situs IndosatM2. Periksa website ISP lainnya unt perbandingan. Perhatikan coverage area unt mengetahui apakah daerah anda tercakup dalam jangkauan servis mereka. Kirim e-mail atau telp unt minta informasi lebih lengkap.
  • Beberapa peralatan/instalasi yg potensial menjadi sumber gangguan:
AC, kulkas, pompa air, kipas angin, microwave, oven elektrik, telp nirkabel (termasuk handphone), lampu fluorescent (neon), power adaptor, monitor, speaker, stabiliser elektro-mekanis, antena (segala jenis, termasuk built-in wireless antena pada laptop), pemancar radio di sekitar rumah, booster, alarm system, kabel listrik tua/terkelupas, dsb.
Segala peralatan yg membangkitkan/merubah frekuensi memiliki potensi menjadi sumber gangguan -- tergantung cara pemakaian peralatan tsb oleh penggunanya, instalasi, jarak serta orientasi-nya terhadap perangkat koneksi ADSL (milik user dan/atau milik provider).
Tidak jarang terjadi kondisi perangkat kita (user & provider) sebenarnya baik² saja, namun sumber interferensi-nya yg terlalu besar sehingga mengacaukan operasi normal perangkat tsb. Atau, perangkat kita yg ternyata beroperasi pada kondisi pas²-an (terlalu dekat dgn margin error) sehingga rentan terhadap perubahan sekelilingnya. Dalam keadaan seperti itu, gangguan sedikit saja sudah mampu mengacaukan keadaan yg sebelumnya tampak "normal²" saja.
  • Hasil Ping hanya menunjukkan Latency antara satu atau lebih titik koneksi, tidak bisa dipakai sendirian begitu saja unt menggambarkan kualitas jaringan. Latency (round-trip time) diukur dari Pengirim > Penerima > Pengirim (dari Sumber sinyal, ke Penerima, balik lagi sampai ke Pengirim). Kalau hasil ping jelek, tidak selalu berarti kualitas jaringannya yg jelek. Bisa jadi si penerima "sedang-terlalu-sibuk" (over-loaded; over-burdened) unt memberikan respons -- meskipun bisa berarti juga "under-performance", misalnya karena salah instalasi dan/atau spesifikasi platform. Atau sinyal ping corrupt di tengah jalan.
Masalah jaringan terlalu kompleks unt bisa dipecahkan/dianalisa hanya dgn satu alat ukur; apalagi jaringan global semacam InterNet[works]. Dan 100 alat ukur boleh dipakai dgn cara bagaimanapun, sepanjang "meteran" tsb tidak dikalibrasi, hasilnya tidak akan pernah akurat.
Jadi tidak perlu posting hasil ping sampai puluhan baris. Cukup beberapa baris saja (dgn packet size standar, 32 Bytes). Pelajari baik² cara penggunaan suatu network tool (ping, traceroute, netsh, whois, netperf, ttcp, dsb) supaya kita jangan sampai salah kena tuduh sbg "pengacau"... tongue Misalnya, ping berkali² ke suatu server/situs dalam jangka waktu pendek bisa diartikan sbg flooding ataupun attack.
Atau posting ping result secara tidak relevan & ber-ulang² di forum... itu bisa diartikan sbg spamming ... [walaupun aslinya mungkin dilakukan karena masalah tidak/belum tahu saja]. Seribu baris ping result di-posting di forum sekalipun tidak bakal merubah keadaan, hanya akan "mengotori" rumah sendiri, ... toh bukan kita yg punya TelkomSpeedy, tak iyyae? wink


[edit] GLOSSARY

  • Marning = Jagung goreng, keras seperti beras mentah (mungkin lebih tepat unt konsumsi kuda drpd homo sapiens ...) big_smile
  • Kulakan [bhs Jawa] = beli untuk dijual lagi
  • EMI = ElectroMagnetic Interference (gangguan elektro-magnetis; berbahaya unt semua jenis peralatan elektronik).
  • Latency (round-trip time; delay) = Total waktu yg diperlukan suatu sinyal unt menuju ke sasaran dan kembali lagi ke pembangkitnya.

[edit] Referensi


tabel SNR dan Attenuation speedy

abel 1: Klasifikasi SNR_Margin (Signal-to-Noise Margin)
Makin TINGGI makin BAIK 
--------------------------------------------------------
29,0 dB ~ ke atas = Outstanding (bagus sekali)
20,0 dB ~ 28,9 dB = Excellent (bagus) • Koneksi stabil.
11,0 dB ~ 19,9 dB = Good (baik) • Sinkronisasi sinyal ADSL dapat berlangsung lancar.
07,0 dB ~ 10,9 dB = Fair (cukup) • Rentan terhadap variasi perubahan kondisi pada jaringan.
00,0 dB ~ 06,9 dB = Bad (buruk) • Sinkronisasi sinyal gagal atau tidak lancar (ter-putus²).
--------------------------------------------------------

Tabel 2: Klasifikasi Line Attenuation (Redaman pada Jalur)
Makin RENDAH makin BAIK
----------------------------------------------------------
00,0 dB ~ 19,99 dB = Outstanding  (bagus sekali)
20,0 dB ~ 29,99 dB = Excellent (bagus)
30,0 dB ~ 39,99 dB = Very good (baik)
40,0 dB ~ 49,99 dB = Good (cukup)
50,0 dB ~ 59,99 dB = Poor (buruk) • Kemungkinan akan timbul masalah koneksi (tidak lancar, dsb).
60,0 dB ~ ke atas  = Bad (amburadul) • Pasti akan timbul banyak gangguan koneksi (sinyal hilang, tidak bisa connect, dsb).
----------------------------------------------------------
Di ambil dari http://opensource.telkomspeedy.com
Dari kondisi yang aku miliki saat ini ada kemungkinan link ke
tempet ku kurang bagus. walau sudah masuk kategori bagus.
Harus ganti kabel telpon dari box sampe ke modem nih

Selasa, 20 November 2012

Cara Mengetahui Nomor HP/SimCard (XL, Telkomsel, 3, Indosat, Smart) Yang Sedang Kita Gunakan

Halo Agan dan Sista...
Waduh, jarang sekali saya update blog ya... hehe....
Kali ini saya mau posting Bagaimana Cara Mengetahui Nomor HP Sendiri yang kadang kita lupa. Terutama yang suka gonta ganti nomor hape tuh, banyak temen ane yang ga tau nomornya sendiri juga...xixixi... Oke lah langsung saja.




Telkomsel (Simpati, Kartu As):
Ketik *808# kemudian call/ok

Indosat (IM3, Mentari):
Ketik *777*8# kemudian call/ok

XL
Ketik *123*7*1*1*1# kemudian call/ok

Axis:
Ketik *2# kemudian call/ok

Kartu 3:
Ketik *998# kemudian call/ok , Bisa juga dengan cara cek pulsa *111*1#

Smart:
*995# kemudian call/ok

Senin, 12 November 2012

RAID bagian 4

RoadToMaster  – Bismillaahirrahmaanirrahiim.. Memang, perjalanan dari seorang newbie di dunia IT menuntut keseriusan dalam belajar, bahkan seringkali kita menemukan hambatan dan rintangan ditengah jalan. Tapi yakinilah kawan, hambatan terbesar ada pada diri kita, yaitu kemalasan untuk mencari tahu dan menggali apa makna yang terkandung dalam ilmu tersebut. Maka dari itu, dengan Semangat Baru, Kita Mau, Kita Mampu, Kita Maju.. :D
Bahasan kali ini bermula dari jobdesc yang belum pernah saya tangani, bahkan belum pernah saya pelajari sewaktu kuliah. Maklum, dulu hampir setiap harinya berkutat dengan sistem yang berbau transmisi, hehe.. :D Tapi kali ini dikasih kesempatan menjadi junior System Engineer, yang mau ga mau berhubungan dengan sistem yang lebih kompleks dari sistem transmisi itu sendiri. Yup bahasan kita kali ini adalah Sistem Redundansi Penyimpanan Data (Redundant Data Storage System).
Nah, dalam istilah penyimpanan data, dikenal sistem teknologi RAID, yaitu singkatan dari Redundant Array of Independent Disks. Berdasarkan penjelasan dari Mbah Wiki di rumahnya :D , RAID merujuk kepada sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fitur toleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer (utamanya adalah hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakan perangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah. Kata “RAID” juga memiliki beberapa singkatan Redundant Array of Inexpensive Disks, Redundant Array of Independent Drives, dan juga Redundant Array of Inexpensive Drives. Apapun singkatannya, teknologi ini intinya adalah membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah, sehingga didesain untuk meningkatkan keandalan data dan/atau meningkatkan kinerja I/O dari hard disk.
Sejak pertama kali diperkenalkan, RAID dibagi ke dalam beberapa skema, yang disebut dengan “RAID Level“. Pada awalnya, ada lima buah RAID level yang pertama kali dikonsepkan, tetapi seiring dengan waktu, level-level tersebut berevolusi, yakni dengan menggabungkan beberapa level yang berbeda dan juga mengimplementasikan beberapa level proprietary yang tidak menjadi standar RAID. Kelima level tersebut adalah:
  • RAID level pertama: mirroring
  • RAID level kedua : Koreksi kesalahan dengan menggunakan kode Humming.
  • RAID level ketiga : Pengecekan terhadap disk tunggal di dalam sebuah kelompok disk.
  • RAID level keempat: Pembacaan dan penulisan secara independen
  • RAID level kelima : Menyebarkan data dan paritas ke semua drive (tidak ada pengecekan terhadap disk tunggal)
Berdasarkan refensi yang saya dapatkan dari mas William, ada 3 macam metode RAID berdasarkan kegunaannya yang dapat digunakan, yaitu:
- RAID 0 (metode Striping)
- RAID 1 (metode Mirroring)
- RAID 0+1 (metode Striping + Mirroring)
RAID 0 (untuk kecepatan)
RAID 0 yg dikenal juga dgn metode Striping digunakan utk mempercepat kinerja hardisk. Kapasitas total hardisk pada metode ini adalah jumlah kapasitas hardisk pertama ditambah hardisk kedua. Metodenya dilakukan dengan cara membagi data secara terpisah ke dua buah hardisk. Jadi separuh data ditulis ke hardisk pertama dan separuhnya lagi ditulis ke hardisk ke dua. Secara teoritis cara ini akan mempercepat penulisan/pembacaan harddisk. Keburukan dari cara ini adalah apabila salah satu hardisk rusak maka seluruh data akan hilang.
RAID 1 (untuk keamanan data)
RAID 1 yg dikenal juga dengan metode Mirroring digunakan utk mendapatkan keamanan data (backup). Metodenya dilakukandengan cara menyalin isi harddisk pertama ke harddisk kedua. Jadi apa yg ditulis pada hardisk pertama akan juga ditulis di hardisk kedua. Apabila salah satu hardisk rusak, maka data pada hardisk yg satunya masih ada. Keburukan dari cara ini adalah tidak adanya peningkatan kinerja sama sekali, performanya malah akan sedikit lebih pelan dibanding perrforma hardisk single (non-RAID). Selain itu kapasitas total yg anda dapat dgn metode ini hanyalah sebesar kapasatitas satu hardisk saja.
RAID 0+1 (untuk kecepatan+backup)
Metode ini merupakan kombinasi RAID 0 dan RAID 1. Dimana selain memperoleh kecepatan anda juga memperoleh keamana data. Untuk metode ini diperlukan minimal 4 harddisk. Kapastitas total yg anda dapat adalah sejumlah kapasitas 2 hardisk.
Biasanya metode RAID 1 digunakan utk server, sebab server mengutamakan keamanan data. Sedangkan utk pengguna PC rumahan RAID 0 lebih umum digunakan karena yg diutamakan bagi mereka adalah peningkatan kinerja harddisk. Tapi apakah benar RAID 0 dapat meningkatkan kinerja secara drastis? Yup, kita pahami saja konsep dibawah ini kawan :D

raid 0+1 stripping and mirroring
RAID 0+1 stripping and mirroring
Konsep Dasar RAID
Ada beberapa konsep kunci di dalam RAID: mirroring (penyalinan data ke lebih dari satu buah hard disk), striping (pemecahan data ke beberapa hard disk) dan juga koreksi kesalahan, di mana redundansi data disimpan untuk mengizinkan kesalahan dan masalah untuk dapat dideteksi dan mungkin dikoreksi (lebih umum disebut sebagai teknik fault tolerance/toleransi kesalahan).
Level-level RAID yang berbeda tersebut menggunakan salah satu atau beberapa teknik yang disebutkan di atas, tergantung dari kebutuhan sistem. Tujuan utama penggunaan RAID adalah untuk meningkatkan keandalan/reliabilitas yang sangat penting untuk melindungi informasi yang sangat kritis untuk beberapa lahan bisnis, seperti halnya basis data, atau bahkan meningkatkan kinerja, yang sangat penting untuk beberapa pekerjaan, seperti halnya untuk menyajikan video on demand ke banyak penonton secara sekaligus.
Konfigurasi RAID yang berbeda-beda akan memiliki pengaruh yang berbeda pula pada keandalan dan juga kinerja. Masalah yang mungkin terjadi saat menggunakan banyak disk adalah salah satunya akan mengalami kesalahan, tapi dengan menggunakan teknik pengecekan kesalahan, sistem komputer secara keseluruhan dibuat lebih andal dengan melakukan reparasi terhadap kesalahan tersebut dan akhirnya “selamat” dari kerusakan yang fatal.

>> RAID 0 (Teknik Disk Striping), bisa meningkatkan performa, yang mengizinkan sekumpulan data dibaca dari beberapa hard disk secara sekaligus pada satu waktu, akan tetapi bila satu hard disk mengalami kegagalan, maka keseluruhan hard disk akan mengalami inkonsistensi performansi.

raid 0 - stripping
RAID 0 - Stripping
Disk Striping mengijinkan kita untuk menulis data ke beberapa Harddisk daripada menulis data ke satu Harddisk saja. Dengan Disk Striping, setiap Harddisk fisik akan dibagi menjadi beberapa elemen stripe (berkisar antara 8 KB, 16 KB, 32 KB, 64 KB, 128 KB, 256KB, 512KB, to 1024KB). Setiap bagian stripe dalam setiap Harddisk disebut strip.
Disk Striping dapat meningkatkan kinerja karena pengaksesan data diakses dengan lebih dari satu harddisk, sehingga lebih banyak spindle disk yang bekerja dalam melayani I/O data. Namun Disk Striping (RAID 0) tidak memiliki data redundancy / proteksi data terhadap kerusakan harddisk, karena semua data ditulis langsung apa adanya ke semua Harddisk.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 0 kita dapat menggunakan 100% dari total jumlah kapasitas harddisk yang terpasang. Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 0 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB

>> RAID 1 (Teknik Disk Mirroring) dapat meningkatkan proses pembacaan data mengingat sebuah sistem yang menggunakannya mampu membaca data dari dua disk atau lebih, tapi saat untuk menulis kinerjanya akan lebih buruk, karena memang data yang sama akan dituliskan pada beberapa hard disk yang tergabung ke dalam hard disk tersebut. Berikut penjelasan lebih detailnya dari salah satu sumber yang saya dapatkan:

raid 1 mirroring
RAID 1 Mirroring
RAID 1 (Disk Mirroring) bekerja dengan prinsip cermin, yaitu berpasang-pasangan dan identik antara satu dengan yang lainnya. Jadi dengan RAID 1, data yang ditulis ke satu Harddisk secara simultan ditulis juga ke Harddisk yang lainnya. Sehingga jika terjadi kerusakan 1 Harddisk pada RAID 1, system server masih memiliki data cadangan di harddisk yang lainnya. Dan pada saat Harddisk yang rusak diganti dengan yang baru, maka secara otomatis, harddisk pengganti yang baru dipasang akan melakukan sinkronisasi data dengan harddisk yang masih berfungsi (rebuilding) Keuntungan dari RAID 1 adalah data memiliki cadangan antara yang ada di harddisk yang satu dengan yang lainnya. Dan karena isi dari kedua Harddisk tersebut adalah identik, tidak jadi masalah harddisk yang mana yang boleh rusak selama pada suatu saat hanya satu Harddisk yang rusak, sampai proses sinkronisasi berikutnya selesai.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 1 kita akan hanya memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak 50% dari total kapasitas Harddisk yang terpasang
Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 1 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.

>> RAID 5 (Teknik Disk Striping with Distributed Parity)
Sesuai dengan namaya, cara kerja RAID 5 sama dengan cara kerja RAID 0, yaitu menggunakan disk striping.Yang membedakan anatara keduanya adalah Parity. Parity ini digunakan untuk pengecekan dan perbaikan kesalahan (error checking and correcting). Parity ini disebar di beberapa disk untuk menghindari pengurangan kinerja (Performance bottleneck) pada saat pembuatan parity. Jika Parity disimpan di satu harddisk saja, maka disebut RAID 3 (Disk Striping with Dedicated Parity). Dengan adanya parity ini, maka system RAID 5 tersebut akan tetap berfungsi jika ada salah satu harddisk dalam RAID 5 tersebut itu rusak. Dan harddisk yang rusak tersebut dapat harddisk yang mana saja selama berada dalam satu system RAID 5 yang sama. Karena parity ini berasal dari perhitungan matematik dari suatu beberapa pecahan data, maka, pada saat ada satu bagian pecahan data yang hilang/rusak, system RAID 5 dapat “mengetahui” pecahan data yang hilang tesebut dengan menghitung ulang parity dengan pecahan data yang lainnya.

Raid 5
RAID 5
Secara sederhana, parity bisa dianalogikan dengan perhitungan matematik sbb; 6 + 5 = 11. Dimana angka 6 & 5 adalah data, dan angka 11 adalah parity. Jika suatu saat angka (Harddisk) 5 mengalami kerusakan, maka system dapat menghitung ulang berdasarkan parity (angka 11), angka(Harddisk) apa yang hilang tersebut. Jadi data yang ada pada harddisk yang rusak, tetaplah rusak, hanya saja dengan bantuan parity maka data pada harddisk yang hilang tersebut dapat dihitung ulang kembali. Hal ini juga yang menyebabkan untuk RAID 5 mengalami kerusakan harddisk adalah sebanyak 1 harddisk saja pada suatu saat.Kembali dengan analogi matematik diatas, jika angka (Harddisk) 6 + 5 hilang, maka kemungkinan angka 11 didapat bisa memiliki banyak kemungkinan, seperti 2+9, 3 + 8, dst. komputer tidak dapat membuat suatu perhitungan yang tepat jika data yang tersedia memiliki banyak kemungkinan.
Dari sisi kapasitas, maka RAID 5 kita akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-1) x Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 3 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.

>> RAID 6 (Disk Striping with Dual Parity)
(*mulai didukung HANYA di PERC6 dan selanjutnya)
Dapat dilihat dari namanya, RAID 6 menggunakan cara kerja dan konsep yang sama dengan RAID 5 dari sisi penulisan data yang tersebar di beberapa hard disk. Yang membedakan antara RAID 6 dan RAID 5 adalah jumlah parity yang ditulis pada saat penulisan data. Jika RAID 5 menggunakan satu parity, maka RAID 6 menggunakan dua parity. Dengan menulis 2 parity, maka RAID 6 dapat mengakomodasikan kerusakan harddisk maksimal 2 unit pada saat yang bersamaan
RAID 6
RAID 6
Dari sisi kapasitas, maka RAID 6 kita akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-2) x Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 6 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.

>> Teknik pengecekan kesalahan juga pada umumnya akan menurunkan kinerja sistem, karena data harus dibaca dari beberapa tempat dan juga harus dibandingkan dengan checksum yang ada. Maka, desain sistem RAID harus mempertimbangkan kebutuhan sistem secara keseluruhan, sehingga perencanaan dan pengetahuan yang baik dari seorang administrator jaringan sangatlah dibutuhkan.
Beberapa sistem RAID dapat didesain untuk terus berjalan, meskipun terjadi kegagalan. Beberapa hard disk yang mengalami kegagalan tersebut dapat diganti saat sistem menyala (hot-swap) dan data dapat diperbaiki secara otomatis. Sistem lainnya mungkin mengharuskan shutdown ketika data sedang diperbaiki. Karenanya, RAID sering digunakan dalam sistem-sistem yang harus selalu on-line, yang selalu tersedia (highly available), dengan waktu down-time yang, sebisa mungkin, hanya beberapa saat saja.
Pada umumnya, RAID diimplementasikan di dalam komputer server, tapi bisa juga digunakan di dalam workstation. Penggunaan di dalam workstation umumnya digunakan dalam komputer yang digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan penyuntingan video/audio.
Yup, itulah sekelumit konsep tentang RAID. Tunggu ya bahasan selanjutnya mengenai Veritas Cluster System, yang masih berhubungan dengan teknologi Database Storage. Selamat bersenang-senang kawan :D
Salam,
Akheededi @eMulanetwork

Perbandingan RAID Level
Features RAID 0 RAID 1 RAID 1E RAID 5 RAID 5EE
Minimum # Drives 2 2 3 3 4
Data Protection No Protection Single-drive failure Single-drive failure Single-drive failure Single-drive failure
Read Performance High High High High High
Write Performance High Medium Medium Low Low
Read Performance (degraded) N/A Medium High Low Low
Write Performance (degraded) N/A High High Low Low
Capacity Utilization 100% 50% 50% 67% – 94% 50% – 88%
Typical Applications High End Workstations, data logging, real-time rendering, very transitory data Operating System, transaction databases Operating system, transaction databases Data warehousing, web serving, archiving Data warehousing, web serving, archiving

Features RAID 6 RAID 10 RAID 50 RAID 60
Minimum # Drives 4 4 6 8
Data Protection Two-drive failure Up to one disk failure in each sub-array Up to one disk failure in each sub-array Up to two disk failures in each sub-array
Read Performance High High High High
Write Performance Low Medium Medium Medium
Read Performance (degraded) Low High Medium Medium
Write Performance (degraded) Low High Medium Low
Capacity Utilization 50% – 88% 50% 67% – 94% 50% – 88%
Typical Applications High End Workstations, data logging, real-time rendering, very transitory data Fast databases, application servers Large databases, file servers, application servers Data archive, backup to disk, high availability solutions, servers with large capacity requirements

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/RAID
http://nasari.wordpress.com/2010/04/30/pengertian-raid
http://www.wiliam.info/it/info-it/raid-apaan-tuch
http://student.eepis-its.edu/~izankboy/laporan/adminlinuxpdf/11.%20Managemen%20File%20Sistem%20Lanjutppt.pdf
http://www.pantherproducts.co.uk/Articles/Storage/RAID.shtml
http://tenggosoft.wordpress.com/server/sistem-raid/
http://ironraid.com/whatisraid.htm
http://www.raidrecoverylabs.com/standard_raid_levels/

RAID bagian 3

RAID 1
RAID 1 (satu) merupakan konfigurasi RAID mirroring (cermin) yang artinya konten pada sebuah HDD merupakan cerminan HDD lainnya yang tergabung dalam RAID 1 tersebut.
Sistem kerja dari RAID 1 adalah penyebaran blok data pada sebuah HDD disebar ke HDD yang lainnya sehingga setiap HDD memiliki konten/isi data yang sama persis atau identik. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
ScreenShot037
Image source : http://www.thegeekstuff.com/
Blok data A, B dan C pada Disk 1 akan dicerminkan ke Disk 2 sehingga kedua HDD tersebut menjadi sama isi dan konfigurasinya. Apabila terjadi kerusakan pada salah satu HDD maka HDD lainnya dapat menggantikan fungsi dari HDD yang rusak tersebut.
Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 1 dengan Harddisk B (merk Seagate, 7200RPM 8Mb cache, 320GB). Maka hasilnya adalah *tidak tahu* karena Saya belum pernah mencobanya. Sepertinya harus menggunakan HDD yang identik agar hasil yang didapat bisa maksimal.
Jadi kita anggap saja HDD A akan dikonfigurasi RAID 1 dengan HDD yang identik (A’). Sehingga hasilnya didapat:
HDD A (500GB) + HDD A’ (500GB) = 500GB
Apabila terjadi kerusakan secara fisik pada HDD A maka HDD A’ dapat menggantikan secara langsung tanpa perlu melakukan reboot/shutdown/logoff komputer sehingga downtime menjadi tidak diperlukan.
Kebutuhan HDD untuk membentuk konfigurasi RAID 1 adalah minimal 2 HDD dan disarankan dengan merk, tipe dan kapasitas yang sama.
Konfigurasi RAID 1 cocok untuk sistem yang membutuhkan reliability dan ketersediaan data yang tinggi (Highly Available).
RAID 5
Raid 5 merupakan konfigurasi RAID yang menggunakan teknologi parity (penyeimbang) yang terdistribusi, sehingga memperkecil potensi bottleneck yang terjadi akibat multiple akses yang dilakukan ke HDD RAID 5.
Mari kita lihat ilustrasinya.
ScreenShot055
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa parity (p1, p2 & p3) terdistribusi ke setiap HDD yang dikonfigurasi RAID 5. Jumlah minimum HDD untuk dapat dikonfigurasi RAID 5 adalah 3 buah. Selanjutnya, berlaku rumus (n+1, n>1).
Contoh kasus: Harddisk A (merk WDC, 7200RPM 16MB cache, 500GB) akan dikonfigurasikan RAID 5 dengan Harddisk B & C (identik dengan HDD A).
Maka hasilnya adalah sbb;
HDD A (500GB) + HDD B (500GB) + HDD C (500GB) = 1000GB (1 Terra)
Hanya sekitar 70% dari total seluruh kapasitas gabungan HDD RAID 5 yang aktualnya dapat digunakan.
Konfigurasi RAID 5 sangat bagus dari segi price/perfomance. Oleh karena itu sangat disarankan untuk digunakan pada sistem yang menggunakan database secara intens, namun database yang dimaksud hanya diakses baca saja (read only), bukan untuk akses tulis (access write).
OK, sekian untuk pembahasan RAID pada artikel kali ini. Di artikel selanjutnya kita akan mencoba membahas tentang contoh gabungan dari teknologi RAID, yaitu RAID 1+0 & 0+1.
Semoga bermanfaat.

RAID bagian 2

RAID merupakan kependekan dari “Redundant Array of Independent Disk”. Konsep RAID diciptakan untuk mendapatkan kapasitas yang lebih besar dan/atau Fault tolerance yang disebabkan oleh kerusakan Harddisk. Fault Tolerance adalah kemampuan dari suatu system untuk dapat tetap berfungsi meskipun mengalami kegagalan.
Fault tolerance dalam suati server dapat berupa:
• Redundant Power supply (power supply cadangan)
• Redundant FAN
• Online spare (Memory & HDD)
• Mirroring (Memory & HDD)
• RAID 1, RAID 5, dan RAID 6

RAID 0 (Disk Striping)
Disk Striping mengijinkan kita untuk menulis data ke beberapa Harddisk daripada menulis data ke satu Harddisk saja. Dengan Disk Striping, setiap Harddisk fisik akan dibagi menjadi beberapa elemen stripe (berkisar antara 8 KB, 16 KB, 32 KB, 64 KB, 128 KB, 256KB, 512KB, to 1024KB). Setiap bagian stripe dalam setiap Harddisk disebut strip.
Disk Striping dapat meningkatkan kinerja karena pengaksesan data diakses dengan lebih dari satu harddisk, sehingga lebih banyak spindle disk yang bekerja dalam melayani I/O data. Namun Disk Striping (RAID 0) tidak memiliki data redundancy / proteksi data terhadap kerusakan harddisk, karena semua data ditulis langsung apa adanya ke semua Harddisk.

Dari sisi kapasitas, maka RAID 0 kita dapat menggunakan 100% dari total jumlah kapasitas harddisk yang terpasang.
Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 0 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar
1.2TB
RAID 1 (Disk Mirroring)
RAID 1 (Disk Mirroring) bekerja dengan prinsip cermin, yaitu berpasang-pasangan dan identik antara satu dengan yang lainnya. Jadi dengan RAID 1, data yang ditulis ke satu Harddisk secara simultan ditulis juga ke Harddisk yang lainnya. Sehingga jika terjadi kerusakan 1 Harddisk pada RAID 1, system server masih memiliki data cadangan di harddisk yang lainnya. Dan pada saat Harddisk yang rusak diganti dengan yang baru, maka secara otomatis, harddisk pengganti yang baru dipasang akan melakukan sinkronisasi data dengan harddisk yang masih berfungsi (rebuilding) Keuntungan dari RAID 1 adalah data memiliki cadangan antara yang ada di harddisk yang satu dengan yang lainnya. Dan karena isi dari kedua Harddisk tersebut adalah identik, tidak jadi masalah harddisk yang mana yang boleh rusak selama pada suatu saat hanya satu Harddisk yang rusak, sampai proses sinkronisasi berikutnya selesai.

Dari sisi kapasitas, maka RAID 1 kita akan hanya memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak 50% dari total kapasitas Harddisk yang terpasang
Contoh: 4 unit Harddisk 300GB RAID 1 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
RAID 5 (Disk Striping with Distributed Parity)
Sesuai dengan namaya, cara kerja RAID 5 sama dengan cara kerja RAID 0, yaitu menggunakan disk striping.Yang membedakan anatara keduanya adalah Parity. Parity ini digunakan untuk pengecekan dan perbaikan kesalahan (error checking and correcting). Parity ini disebar di beberapa disk untuk menghindari pengurangan kinerja (Performance bottleneck) pada saat pembuatan parity. Jika Parity disimpan di satu harddisk saja, maka disebut RAID 3 (Disk Striping with Dedicated Parity). Dengan adanya parity ini, maka system RAID 5 tersebut akan tetap berfungsi jika ada salah satu harddisk dalam RAID 5 tersebut itu rusak. Dan harddisk yang rusak tersebut dapat harddisk yang mana saja selama berada dalam satu system RAID 5 yang sama. Karena parity ini berasal dari perhitungan matematik dari suatu beberapa pecahan data, maka, pada saat ada satu bagian pecahan data yang hilang/rusak, system RAID 5 dapat “mengetahui” pecahan data yang hilang tesebut dengan menghitung ulang parity dengan pecahan data yang lainnya.
Secara sederhana, parity bisa dianalogikan dengan perhitungan matematik sbb; 6 + 5 = 11. Dimana angka 6 & 5 adalah data, dan angka 11 adalah parity. Jika suatu saat angka (Harddisk) 5 mengalami kerusakan, maka system dapat menghitung ulang berdasarkan parity (angka 11), angka(Harddisk) apa yang hilang tersebut. Jadi data yang ada pada harddisk yang rusak, tetaplah rusak, hanya saja dengan bantuan parity maka data pada harddisk yang hilang tersebut dapat dihitung ulang kembali. Hal ini juga yang menyebabkan untuk RAID 5 mengalami kerusakan harddisk adalah sebanyak 1 harddisk saja pada suatu saat.Kembali dengan analogi matematik diatas, jika angka (Harddisk) 6 + 5 hilang, maka kemungkinan angka 11 didapat bisa memiliki banyak kemungkinan, seperti 2+9, 3 + 8, dst. komputer tidak dapat membuat suatu perhitungan yang tepat jika data yang tersedia memiliki banyak kemungkinan.

Dari sisi kapasitas, maka RAID 5 kita akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-1) x Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 3 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 5 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
RAID 6 (Disk Striping with Dual Parity)
(*mulai didukung HANYA di PERC6 dan selanjutnya)
Dapat dilihat dari namanya, RAID 6 menggunakan cara kerja dan konsep yang sama dengan RAID 5 dari sisi penulisan data yang tersebar di beberapa hard disk. Yang membedakan antara RAID 6 dan RAID 5 adalah jumlah parity yang ditulis pada saat penulisan data. Jika RAID 5 menggunakan satu parity, maka RAID 6 menggunakan dua parity. Dengan menulis 2 parity, maka RAID 6 dapat mengakomodasikan kerusakan harddisk maksimal 2 unit pada saat yang bersamaan

Dari sisi kapasitas, maka RAID 6 kita akan memiliki kapasitas harddisk yang dapat digunakan sebanyak (N-2) x Kapasitas HDD dari total kapasitas Harddisk yang terpasang, dimana N adalah jumlah Harddisk.
Contoh:
• 4 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 600GB.
• 5 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 900GB.
• 6 unit Harddisk 300GB RAID 6 akan menghasilkan total kapasitas yang dapat digunakan sebesar 1.2TB, dst.
Sekian pembahasan tentang RAID, semoga bermanfaat.

RAID

Kata Pengantar
Pada mainboard generasi sekarang, banyak sekali yang sudah dilengkapi dengan fitur RAID, terutama pada mainboard hi-end. Namun, mungkin banyak diantara pemirsa blog ini yang belum tahu atau mengerti mengenai teknologi tersebut.
Pendahuluan
RAID, Redundant Array of Inexpensive(Independent) Disks, adalah suatu sistem yang terbentuk dari beberapa harddisk/drive. Secara sederhana, kita biasa membuat beberapa partisi dalam satu harddisk. Nah, dengan RAID, kita dapat membuat satu partisi dari beberapa harddisk.
Batasan Masalah
Dikarenakan masih dalam proses belajar, maka tulisan ini hanya membahas konfigurasi standar RAID, tidak membahas konfgurasi lanjut RAID (nested dan non-standard/proprietary).
RAID 0
Juga dikenal dengan modus stripping. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menggabungkan kapasitas dari beberapa harddisk. Sehingga secara logikal hanya "terlihat" sebuah harddisk dengan kapasitas yang besar (jumlah kapasitas keseluruhan harddisk).
Pada awalnya, RAID 0, digunakan untuk membentuk sebuah partisi yang sangat besar dari beberapa harddisk dengan biaya yang efisien.
Misalnya:
Kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 500GB. Harga sebuah harddisk berukuran 100GB adalah Rp.500.000,- sedangkan harga harddisk berukuran 500GB adalah Rp.5.000.000,-. Nah, kita dapat membetuk suatu partisi berukuran 500GB dari 5 unit harddisk berukuran 100GB dengan menggunakan RAID 0. Tentunya skenario ini lebih murah karena memakan biaya lebih murah: 5 x Rp.500.000,- = Rp.2.500.000,-. Lebih murah daripada harus membeli harddisk yang berukuran 500GB. Itulah kenapa pada awalnya disebut redundant array of inexpensive disk.
Contoh lain:
Pada saat ini ukuran harddisk terbesar yang tersedia di pasaran adalah 500GB, sedangkan kita membutuhkan suatu partisi dengan ukuran 2TB. Nah, kita dapat membeli 4 unit harddisk berkapasitas 500GB dan mengkonfigurasinya dengan RAID 0, sehingga kita dapat memiliki suatu partisi berkururan 2TB tanpa harus menunggu harddisk dengan kapasitas sebesar itu tersedia di pasar.
Data yang ditulis pada harddisk-harddisk tersebut terbagi-bagi menjadi fragmen-fragmen. Dimana fragmen-fragmen tersebut disebar di seluruh harddisk. Sehingga, jika salah satu harddisk mengalami kerusakan fisik, maka data tidak dapat dibaca sama sekali.
Namun ada keuntungan dengan adanya fragmen-fragmen ini: kecepatan. Data bisa diakses lebih cepat dengan RAID 0, karena saat komputer membaca sebuah fragmen di satu harddisk, komputer juga dapat membaca fragmen lain di harddisk lainnya.
RAID 0
RAID 1
Biasa disebut dengan modus mirroring. Membutuhkan minimal 2 harddisk. Sistemnya adalah menyalin isi sebuah harddisk ke harddisk lain dengan tujuan: jika salah satu harddisk rusak secara fisik, maka data tetap dapat diakses dari harddisk lainnya.
Contoh:
Sebuah server memiliki 2 unit harddisk yang berkapasitas masing-masing 80GB dan dikonfigurasi RAID 1. Setelah beberapa tahun, salah satu harddisknya mengalami kerusakan fisik. Namun data pada harddisk lainnya masih dapat dibaca, sehingga data masih dapat diselamatkan selama bukan semua harddisk yang mengalami kerusakan fisik secara bersamaan.
RAID 1
RAID 2
RAID 2, juga menggunakan sistem stripping. Namun ditambahkan tiga harddisk lagi untuk pariti hamming, sehingga data menjadi lebih reliable. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 5 (n+3, n > 1). Ketiga harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan hamming code dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.
Contoh:
Kita memiliki 5 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, D, dan E) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 2, maka kapasitas yang didapat adalah: 2 x 40GB = 80GB (dari harddisk A dan B). Sedangkan harddisk C, D, dan E tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi pariti hamming dari dua harddisk lainnya: A, dan B. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A atau B), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan pariti kode hamming yang ada di harddisk C, D, dan E.
RAID 2
RAID 3
RAID 3, juga menggunakan sistem stripping. Juga menggunakan harddisk tambahan untuk reliability, namun hanya ditambahkan sebuah harddisk lagi untuk parity.. Karena itu, jumlah harddisk yang dibutuhkan adalah minimal 3 (n+1 ; n > 1). Harddisk terakhir digunakan untuk menyimpan parity dari hasil perhitungan tiap bit-bit yang ada di harddisk lainnya.
Contoh kasus:
Kita memiliki 4 harddisk (sebut saja harddisk A,B,C, dan D) dengan ukuran yang sama, masing-masing 40GB. Jika kita mengkonfigurasi keempat harddisk tersebut dengan RAID 3, maka kapasitas yang didapat adalah: 3 x 40GB = 120GB. Sedangkan harddisk D tidak digunakan untuk penyimpanan data, melainkan hanya untuk menyimpan informasi parity dari ketiga harddisk lainnya: A, B, dan C. Ketika terjadi kerusakan fisik pada salah satu harddisk utama (A, B, atau C), maka data tetap dapat dibaca dengan memperhitungkan parity yang ada di harddisk D. Namun, jika harddisk D yang mengalami kerusakan, maka data tetap dapat dibaca dari ketiga harddisk lainnya.
RAID 3
RAID 4
Sama dengan sistem RAID 3, namun menggunakan parity dari tiap block harddisk, bukan bit. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).
RAID 4
RAID 5
RAID 5 pada dasarnya sama dengan RAID 4, namun dengan pariti yang terdistribusi. Yakni, tidak menggunakan harddisk khusus untuk menyimpan paritinya, namun paritinya tersebut disebar ke seluruh harddisk. Kebutuhan harddisk minimalnya juga sama, 3 (n+1 ; n >1).
Hal ini dilakukan untuk mempercepat akses dan menghindari bottleneck yang terjadi karena akses harddisk tidak terfokus kepada kumpulan harddisk yang berisi data saja.
RAID 5
RAID 6
Secara umum adalah peningkatan dari RAID 5, yakni dengan penambahan parity menjadi 2 (p+q). Sehingga jumlah harddisk minimalnya adalah 4 (n+2 ; n > 1). Dengan adanya penambahan pariti sekunder ini, maka kerusakan dua buah harddisk pada saat yang bersamaan masih dapat ditoleransi. Misalnya jika sebuah harddisk mengalami kerusakan, saat proses pertukaran harddisk tersebut terjadi kerusakan lagi di salah satu harddisk yang lain, maka hal ini masih dapat ditoleransi dan tidak mengakibatkan kerusakan data di harddisk bersistem RAID 6.
RAID 6
Kesimpulan dan Saran
Banyak manfaat yang didapat dengan konfigurasi RAID, yakni kecepatan, reliabilitas data, dan toleransi kesalahan. Namun belum lengkap rasanya jika membahas RAID tanpa membahas hot-swappable harddisk, juga beberapa konfigurasi lanjut seperti RAID 0+1 atau RAID 1+0. Mungkin akan dibahas di lain waktu.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi pemirsa sekalian.
Daftar Pustaka
Karna, Nyoman Bogi Aditya. "Computer Organization: Chapter 6" . Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, 2005.
Virgono, Agus. "Sistem Operasi". Bandung, Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, 2006.
Wikipedia. "RAID". Wikipedia, the free encyclopedia. 2007. Wikimedia Foundation, Inc. 29 May. 2007.

Jumat, 02 November 2012

Simulasi Jaringan dengan Virtualbox & Mikrotik



Simulasi Jaringan dengan Virtualbox & Mikrotik

in Komputer / 27 Comments

VirtualBox adalah sebuah software untuk menginstal sistem operasi secara virtual. Dengan sifatnya yang virtual berarti virtualbox dapat digunakan sebagai media untuk mengeksplore berbagai macam software baik itu sistem operasi, software-software tertentu dengan platform tertentu, juga bisa digunakan untuk melaksanakan simulasi jaringan tanpa device-device network fisik yang akan menekan biaya eksperimen (alias ngirit).
Sebuah jaringan komputer tidak akan lepas dari interface-interface yang menjadi media komunikasi antar device/host, virtualbox mengakomodasi hal itu dengan menyediakan fasilitas setting interface/adapter jaringan. Ada beberapa tipe adapter jaringan, tipe-tipe tersebut adalah:
  • NAT : Tipe ini akan menyebabkan host virtual dapat melakukan ping ke host nyata dan tidak sebaliknyaBridge.
  • Bridge : Tipe ini menyebabkan semua host baik host virtual maupun host nyata akan bisa saling ping.
  • Internal Network : Tipe ini akan menyebabkan hanya host-host dilingkungan virtual saja yang bisa saling berkomunikasi (ping).
Rencana Simulasi
Desain Topologi Network
Topologi jaringan yang akan digunakan dalam simulasi ini adalah topologi yang sederhana, berikut desainnya:
Kebutuhan Simulasi:
  • PC/Laptop dengan resource yang besar
  • Koneksi internet dengan ISP, kenapa saya menyarankan ISP? Karena dalam percobaan dengan menggunkan mobile broadband/modem tidak bisa membagi koneksi internet lebih dari satu host
  • Mikrotik router Operating System
  • Sebagai client akan dipakai Microsoft Windows XP, Ubuntu dan CentOS3.
Instalasi dan Konfigurasi
Instalasi
  • Install virtualbox dengan mendownload file installernya di http://virtualbox.org, untuk platform Windows instalasi virtualbox seperti menginstall aplikasi lainnya, untuk lingkungan UNIX silakan baca manualnya di website yang sama. Saya asumsikan masalah instalasi virtualbox tidak ada masalah dan telah terinstall dengan baik dikomputer anda.- Install sistem operasi yang akan dipakai sebagai client (Windows XP, Ubuntu dan CentOS), untuk mempermudah instalasi sistem operasi gunakan file image (*.iso). Saya asumsikan masalah instalasi sistem operasi di virtualbox tidak ada masalah dan ketiganya sudah terinstall dengan baik divirtualbox anda.
  • Install Mikrotik router, jika anda tidak mempunyai cukup dana untuk membeli mikrotik untuk sementara gunakan mikrotik yang sudah dicrack, sama seperti instalasi sistem operasi untuk client, instalasi mikrotik juga cukup menggunakan file image (*.iso). Sekali lagi saya asumsikan masalah instalasi mikrotik tidak ada masalah dan mikrotik sudah terinstall divirtualbox anda.
Konfigurasi Network Adapter untuk masing-masing host (mikrotik dan clients) di virtualbox
Mikrotik
Adapter 1 –> enable: yes, type: bridge, device: device jaringan yang sedang terhubung ke internet (wired/wireless)
Adapter 2 –> enable: yes, type: internal network
Komputer Client
Adapter 1 –> enable: yes, type: internal network
Konfigurasi Mikrotik Router
1. Mengubah nama interface (ether)
1[admin@M4jk3m1] > interface set ether1 name=publik
2[admin@M4jk3m1] > interface set ether2 name=lokal
2. Menambahkan ip address masing-masing interface
1[admin@M4jk3m1] > /ip address
2[admin@M4jk3m1 /ip address] > add address=192.168.1.10/24 interface=publik
3[admin@M4jk3m1] /ip address > add address=192.168.20.1/24 interface=lokal
Menambahkan gateway statik
1[admin@M4jk3m1] > ip route add gateway=192.168.1.1
NB: IP 192.168.1.1 adalah ip address dari wireless router, saya menggunakan wireless router Asus RT-N10
Menambahkan DNS
1[admin@M4jk3m1] > ip dns set primary-dns=202.78.108.23
2[admin@M4jk3m1] > ip dns set secondary-dns=192.168.1.1
NB: ip 202.78.108.23 adalah dns yang diberi oleh pihak isp saya, 192.168.1.1 adalah dns lokal dijaringan saya
5. Menambahkan NAT
1[admin@M4jk3m1] > ip firewall nat chain=srcnat action=masquerade src-address=192.168.20.0/24 out-interface=publik
6. Tes koneksi
Ping gateway: 192.168.1.1
Ping ke 8.8.8.8
Jika hasil semua pengetesan ping diatas hasilnya reply berarti konfigurasi mikrotik telah sukses
Konfigurasi Network CentOS
1. Setting ip address statik di eth0
1# nano /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0
2DEVICE=eth0BOOTPROTO=none
3HWADDR=08:00:27:BE:B0:68 # Generate automatically from your mac address
4IPADDR=192.168.20.2
5NETMASK=255.255.255.0
6NETWORK=192.168.20.0
7BROADCAST=192.168.20.255
8GATEWAY=192.168.1.1
9ONBOOT=yes
2. Menambahkan DNS
1# nano /etc/resolve.conf
2Nameserver 192.168.20.1
3Nameserver 202.78.108.233
Restart service
1# /etc/init.d/network restart
4. Tes koneksi
Ping ke gateway lokal (mikrotik) ping 192.168.20.1
Ping ke gateway publik (mikrtotik) ping 192.168.1.10
Ping ke 8.8.8.8
Jika semua tes diatas reply maka konfigurasi network untuk client di centos berhasil
Konfigurasi Network Ubuntu
1. Setting ip address statik di eth0
01# nano /etc/network/interface
02auto lo
03iface lo inet loopback
04
05auto eth0
06iface eth0 inet static
07address 192.168.20.4
08netmask 255.255.255.0
09gateway 192.168.10.1
10network 192.168.20.0
11broadcast 192.168.20.255
2. Menambahkan DNS
1# nano /etc/resolve.conf
2Nameserver 192.168.20.1
3Nameserver 202.78.108.233
Restart service
1# /etc/init.d/networking restart
4. Tes koneksi
Ping ke gateway lokal (mikrotik) ping 192.168.20.1
Ping ke gateway publik (mikrtotik) ping 192.168.1.10
Ping ke 8.8.8.8
Jika semua tes diatas reply maka konfigurasi network untuk client di Ubuntu berhasil